Senin, 16 April 2012

April Sendu

Apa yang terjadi dalam keseharian kita, ketika kita mampu membacanya maka sebenarnya terdapat pelajaran bagi orang2 yang beruntung yaitu orang2 yang mampu membaca ayat-ayat Allah, baik ayat qauliyah maupun ayat kauniyah. Termasuk qodarullah yang terjadi dalam keseharian kita adalah ayat2 kauniyahNya yang wajib kita imani dan ambil pelajaran.

8 April 2012 siapa sangka, teman saya, guru saya, yang sudah saya anggap seperti bapak saya sendiri dipanggil Allah begitu mendadak terkena serangan darah tinggi, sebelumnya beliau kalau saya perhatikan mungkin sangat jarang mengeluh karena beliau adalah tipikal orang yang mengayomi. Di umurnya yang ke 49 tahun ternyata Allah mengambilnya, umur yang masih sangat kurang jika dibanding umur Rasulullah. Pikiran saya pun melayang ke tahun 2010 silam saat saya hamil 4 bulan, saya sempat menjenguk teman kuliah saya yang sempat koma sebelum di panggil Allah di umurnya yang ke 26 tahun.

Sungguh2 saya berfikir mungkin Allah sangat sayang dengan mereka, hingga Allah mengambil mereka begitu cepat, ya mereka adalah orang yang baik, bisa jadi dengan dipanggil Allah lebih dulu mungkin lebih baik untuk mereka. Bukan berarti Allah juga tak sayang dengan diri kita, mengambil hikmahnya adalah kita masih diberikan waktu untuk memperbaiki diri sebelum masa kita kelak, tidak perlu menunda2 untuk berbuat baik (tentu ini tidak mudah bukan?), memang tidak mudah, tapi semoga dengan kita tak tau kapan masa itu kelak lebih memotivasi kita untuk bersegera dalam kebaikan.

Jodoh, rizki, mati adalah ghoib, rahasiaNya. Kita hanya penting untuk mengimani dan mempersiapkan diri saja, sebaik2nya agar kelak kita tak mengalami penyesalan yang abadi di akhirat kelak. Benarlah bahwa dengan dzikrul maut itu akan membuat kita berhati2 dalam hidup ini. Ngeri juga ketika dosa kita masih bergunung2 ternyata waktu kita sudah “TIME OUT” mati beneran kita kalau kayak gini. Tua, muda, miskin kaya pasti akan mati, satu hal yang nanti membedakan di hadapan Allah adalah kualitas taqwanya, tak ada yang akan kita bawa mati kecuali amalan2 kita. Astaghfirullah, ya Rabb jika kelak sudah sampai masa itu maka semoga Kau ambil kami dengan akhir yang khusnul khotimah, serta satukan kami dengan orang2 yang sholeh serta orang2 yang kami cintai, keluarga, dan teman2 kami di Jannatul Firdausi aamiin.

Kamis, 29 Maret 2012

Keluarga Suamiku

Siapa sangka, ya saya diberi karunia bersama bergabung bersama mereka keluarga Ahmad Sholeh, BA dan Salamah, AMa resmi 14 Februari 2010 saya menjadi menantu di keluarga itu. Menantu ke tiga setelah adik ipar Zahratul Azmi, Lc & Muhammad Afdhol, Lc serta Arini Amalia Mardhiyya, c Lc (semoga Allah mudahkan kuliah adek saya yang satu ini aamiin) & Muhammad Ilyas,Lc. Menjadi bagian dari mereka yang sarat dengan keilmuan tidak pernah saya bayangkan !!!! Ya saya sama sekali tak menyangka, ipar2 saya pinter2...(tentu suami saya juga...heh3... walaupun saya juga pinter...he3...). Kalau gak pinter mana bisa mereka masuk LIPIA yang kuliah gratis malah dibayar itu. Saya merasa kesasar tapi saya seneng ^_^, alhamdulillah ya Rabb.

Dua adik ipar saya dulu Zahratul Azmi, Lc dan Arini Amalia Mardhiyya, cLc menikah ketika masih kuliah 2007 silam saat Arini 22 tahun dan Azmi 24 tahun (pernikahan dini menurut saya), subhanallah wani tenan (di LIPIA kalo menikah dapat tunjangan ternyata), bisa anda bayangkan betapa repotnya mereka menyelesaikan studinya. 2 tahun i'dad (persiapan sebelum kuliah syari'ah begitu yang saya tau). Zahratul Azmi akhirnya menyelesaikan Lc nya ketika sudah berputra dua, sedangkan Arini Amalia masih berjuang untuk cLc nya, semoga Allah mudahkan, aamiin (padahal sekarang buntutnya si Arini juga sudah dua). Secara sadar saya banyak belajar dari Zahra dan Arini, ya mereka mampu untuk berjuang di tengah seringnya di tinggal suami da'wah bahkan sampai ke pulau lain or ke luar negeri dalam jangka waktu yang tidak sebentar, saya cuma bisa membayangkan pusingnya sendirian alias alone tanpa suami (pikir saya resiko bersuamikan ustadz, apalagi bukan ustadz kiri tapi ustadz beneran, ditinggal terus2an heh3....). Ya mereka bisa menyelesaikan semua dengan baik...so saya juga mustinya bisa donk....^_^ kan saya juga istri ustadz Arif Nasrullah, SS (ustadz kiri...heh3....)

Kakakipar saya M.Irsyadul Huda juga hebat,walau telat nikah (menurut saya, 34 tahun menikah dapat akhwat sholihah pula, puenake....) beliau kerja di Koran Sindo Jakarta (keren kan, kuli tinta dan begitu mencintai pekerjaannya, kalau sama adik2nya wes guathekan kalo orang jawa bilang wes nuwani tenan atau gampangnya menjalankan fungsinya sebagai seorang kakak. Bersama Mbak Santi istrinya mesti jadi tim yang hebat (mbayangke puenake Mas Huda ada Mbak Santi yang oke punya). Yang termuda Tsaqilatun-Nida satu katayang cukup mewakili, kalau sama dia sifat tidak bisa diam saya bisa kumat cozzzzzzz anak satu ini doyan ngobrol ( sekarang masih kuliah di Dzunnuroin Jakarta).

Begitulah ke empat ipar saya memilih Jakarta entah selanjutnya bagaimana. Suami saya ternyata memilih Solo (katanya Solo kota kecil tapi lengkap, dan sepertinya sudah lengket kaya perangko he3....buktinya sampai sekarang di Solo), tapi kalau lebaran kami disatukan di Magelang Gemilang ^^ .

Senin, 26 Maret 2012

Kemana oh kemana

Betapa banyak orang yang mampu tapi mereka tak mau….

Betapa banyak yang sebenarnya bisa faham, tapi mereka tak mau faham….

Betapa banyak yang sebenarnya bisa berbuat tapi tak mau berbuat…..

Betapa banyak orang pintar di negeri ini tapi mereka juga tak mau….

Kemana larinya kesadaran?.....

Kemana larinya kepedulian?...

Apakah semua tertidur?...

Ataukah semua sudah tak bernyawa….

Hingga keadaan menjadi seperti ini….

Ataukah sebenarnya mereka tak mengerti dengan semua ini??

Kemana perginya hati…kemana perginya akal…

Ketika semua masa bodoh….Ketika semua pasrah dan menyerah…

Masih ada yang tetap bertahan…ya...terus bertahan dengan tangguhnya…

::BBM naik biarin aje....yang penting oke...::

Minggu, 18 Maret 2012

Tentang Paedagogi, Psikologi Remaja dan Kawan-Kawannya

Lagi2 tentang rasa, bukan berarti karena saya wanita tapi tidak tau kenapa saya sering membahasnya, mungkin saking seringnya beririsan dengan masalah rasa ini. Entah pandangan orang terhadap diri saya seperti apa pernah ada masukan dari teman satu kantor agar saya memperhatikan kode etik guru (walau disampaikan tidak secara langsung kepada saya, tapi saya sangat merasa). Yang masih saya ingat adalah statemen “ Sedekat apapun diri kita dengan murid, coba tetap jaga kode etik guru”…betul juga, nyatanya mungkin saya terlalu dekat dengan mereka kali ya….ya bagaimana lagi ^-^ saya kan orangnya ramah dan perhatian (ha…ha…3). Bagi saya ketika kita bias dekat dengan anak, kita akan lebih mudah untuk mengajar mereka. Apalah kode etik guru…intinya saya tetap berusaha untuk menjadi guru yang baik…dan baik itu juga relative tergantung siapa yang memandang hanya tetap saja parameternya adalah Qur’an dan Sunnah.

Saya tidak menyesal di tempatkan di tempat mengajar saya sekarang, jadi kaya ilmu, walau mungkin berjuang di sana tidaklah mudah, sederet factor luaran yang senantiasa mengacaukan langkah2 pembinaan kami pada anak2. Ya sekolah saya berada di daerah pinggiran kota Solo, perbatasan dengan kota yang lain, di tengah hiruk pikuk kota Solo, mulai pasar tradisional sampai Mall2 yang ada di dekat sekolah saya, Rumah Sakit serta bangunan2 bersejarah, begitu banyak factor luaran bukan?

Siswa siswi saya memang beragam dari kalangan bawah sampai atas ada di sana. Yang menjadi perhatian adalah ternyata selama dua tahun lebih mengajar di sana, pelajaran yang bisa saya ambil adalah ternyata afeksi kita terhadap anak2 kurang, kita terlalu terpaku pada sisi kognitif saja, saya semakin sadar ketika masalah pada anak2 muncul satu persatu dan saya bahkan diminta anak2 secara langsung untuk membantu permasalahan mereka ( saya pikir2 kenapa mereka minta tolong saya ya?.....) ternyata begitu kompleks permasalahan mereka. Sering kesalahan kita adalah me-judge mereka tanpa melihat mereka yang sesungguhnya seperti apa ( astaghfirullah, semoga saya tak termasuk di dalamnya ya Rabb)

Ya, saya simpulkan ternyata mereka krisis kepemimpinan, krisis konsep diri itu pangkalnya. Motivasi mereka rendah, penakut dan tak bisa menyelesaikan problem yang sebenarnya adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Saya tegaskan kepada mereka bahwa mereka harus kuat, jangan mudah menyerah, banyak yang keadaannya lebih buruk dari mereka, jangan menyesali apa yang terjadi tapi bersyukur dengan apa yang sudah Allah berikan serta bersabar. Ternyata sekali dua kali belum cukup untuk merubah mereka, betullah bahwa yang namanya pembinaan itu adalah selama hidup, tidak temporer saja.

Terakhir memang yang sering terlupakan adalah do’a, bagaimana do’a mampu untuk membantu. Sadar lagi (ternyata saya sering melupakan mereka, astaghfirullah). Ketika mau Allah membantu tugas mulia kita ya…jangan lupa berdoa, dan ketika doa’2 tak kunjung dikabulkan, percaya Allah kabulkan diwaktu yang tepat.

::mencoba mencintai “MEREKA” dengan segenap kelebihan dan kekurangan::

Sabtu, 10 Maret 2012

Anak Panas,Jangan Panik

Menulis sangatlah menyenangkan, setelah beberapa waktu tidak menyempatkan, saatnya saya berbagi dengan anda. Putri saya yang pertama Shafa umurnya sekarang sudah 14 bulan sedang aktif2nya belajar bereksplorasi, belajar berjalan tak kenal lelah, disamping juga masih suka memasukkan apapun yang dia temui ke dalam mulut. Lha sebagai seorang ibu kita harus berhati2, karena jika hal seperti ini sering terjadi maka bisa menjadi bibit munculnya penyakit, dari barang2 kotor yang dimasukkan anak ke dalam mulut. Disamping itu asupan makanan anak juga ternyata berpengaruh terhadap ketahanan tubuh anak.

Baru2 ini Shafa habis batuk pilek dan panas kemungkinan salah satu penyebabnya adalah minum es terlalu banyak (he3….lha bagaimana lagi, ikut mbahnya minta es dung2…habis satu gelas cepuk kecil…hem, umminya ngelus dada) ee, tidak selang lama setelah itu batuk pilek menghampiri Shafa, disusul dengan naiknya suhu tubuh Shafa. Sebagai seorang ibu diharapkan agar kita tidak panik agar anak juga tidak tambah rewel. Hal2 yang harus kita lakukan ketika menjumpai anak batuk pilek atau panas adalah:

1. Coba parut bawang merah dicampur dengan minyak telon atau minyak kayu putih, oleskan diseluruh tubuh anak (saya pernah membaca bahwa di dalam bawang merah terdapat zat yang bias menurunkan panas)

2.kKompres badan anak dengan air

3. Pakaikan anak baju yang longgar, agar sirkulasi udara lancer, jangan pakaikan anak baju yang tebal karena justru membuat sirkulasi udara terhambat.

4. Jika panas terlalu tinggi 39 derajat ke atas, coba diberikan obat turun panas yang cocok untuk anak2 ex: iboprofin, sanmol dll sesuaikan dosis dengan umur anak.

5. Jika anda khawatir karena anak tak kunjung turun panas badannya, bisa anda bawa periksa ke bidan atau dokter . Tapi bisa juga anda tunggu 2 hari dulu baru kalau panas tidak turun2 segera periksakan anak.

Memang bagi seorang ibu, ketika anak yang jarang sakit tiba2 sakit dan tidak kunjung sembuh akan membuat cemas, ada baiknya juga bagi kita untuk terus menambah khasanah pengetahuan kita akan masalah kesehatan, agar sewaktu2 ketika anak kita, atau ada anggota keluarga yang sakit kita tahu apa yang seyogjanya harus segera kita lakukan, mari terus belajar ^o^

Sabtu, 25 Februari 2012

GOSIP

Gosip, membuat jengah juga, gak bosen apa bahas hal yang sama terus2an hem..itulah kotak ajaib si televisi alhamdulillah di rumah kami tidak ada televisi (komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang baik buat si kecil) sudah cukup Shafa (putri kami) melihat televisi di rumah Mbah Kung dan Mbah Putrinya, dan di rumah saatnya untuk edukasi yang menyehatkan, InsyaAllah.

Banyak tayangan yang tak menyehatkan di televisi,maka dari itu saya tak kecewa tidak mempunyai televisi. Salah satunya adalah acara GOSIP yang dikemas secara apapun itu, miris rasanya anak2 bangsa di sibukkan dengan kotak ajaib itu, sering saya suami dan putri kami Shafa ketika malam hari pulang dari tempat simbah mendapati mayoritas rumah2 di sepanjang jalan kami pulang sibuk dengan kotak ajaib mereka, oh ya Rabb apa menariknya televisi coba!!!!!

Televisi bisa saja menjadi media yang berguna bagi pemiliknya asal kita tetap bisa untuk tidak tergoda dengan tayangan2 yang sekiranya bisa membuat kita kecanduan dan lupa waktu. Tonton televisi seperlunya saja, berita, talkshow dsb. Jangan sampai dan jangan pernah terjerat dengan sihir si kotak ajaib, weleh...hati2 saudara2. Ya karena kewajiban kita jaaaauuuuuuh luebiiih banyak dari waktu kita yang tersedia so, kalau hanya membuang2 waktu kita...enggak lah!!!!

Begitulah ketika substansi ditinggalkan hanya karena memikirkan laku atau tidak, maka bukannya media menjadi sesuatu yang produktif justru kontraprodutif dalam menciptakan kemanfaatan secara umum. Tentunya kemanfaatan jangka panjang untuk anak cucu kita kelak. Ya seperti efek bola salju semakin lama akan membesar dan membesar jika tidak ada yang mencoba untuk peduli. Maka semoga kita bisa mulai lebih peduli, dimulai dari peduli dengan diri kita sendiri dengan cerdas memilih tayangan yang bergizi untuk keluarga kita ^_^

Sabtu, 11 Februari 2012

Karena Mereka Kita Bisa

Merekalah yang banyak membuat kita menjadi lebih pintar, murid2 kita. Sungguh kesempatan yang mungkin tak semua orang mendapatkan. Dulu ketika tidak dimotivasi orang tua mungkin saya enggan menjadi guru. Alhamdulillah walau tidak mudah, tapi saya bersyukur menjalankan nasihat orang tua. Bisa jadi saya tak kan mendapatkan pengalaman yang membuat saya kaya hikmah jika saya tidak menjadi guru. Dulu sebelum menjadi guru, ketika menjalani profesi sebagai tentor juga mengasyikkan, bedanya ketika menjadi guru adalah audiens lebih banyak dan tentu dari berbagai kalangan. Kalau dulu hanya kalangan menengah ke atas saja. Ketika menjadi guru maka yang saya hadapi adalah anak2 yang tidak semuanya ber”ada” atau bisa dibilang menengah ke bawah, sungguh sangat kompleks hal2 yang mempengaruhi keberhasilan proses belajar mereka.

Pernah suatu ketika ada anak yang rumahnya kebanjiran dan buku matematikanya hilang saya Tanya mana bukumu nak? Hilang bu, rumah saya kebanjiran. Lalu saya berikan solusi diganti ya nak bukunya, maaf bu saya tidak punya uang, atau lain waktu ketika ada anak yang tidak konsen mengikuti pembelajaran saya Tanya, kenapa nak kau tak seperti biasanya? Mana catatan dan PRnya? Maaf bu saya kemaren membantu Pakdhe parker di PGS (Pusat Grosir Solo)tidak sempat istirahat dan mengerjakan PR. Dan masih banyak kisah yang lainnya yang membuat saya mengelus dada. Sungguh. Itu tak mudah bagi mereka.

Ya, saya insyaAllah terus membangun rasa empati saya, berusaha mengontrol emosi ketika anak2 tak seperti yang saya harapkan, ketika anak2 menjengkelkan, bahkan ketika anak2 tak sopan pada saya. Dulu awal2 mengajar dan kebetulan hamil muda seringkali marah karena kelakuan mereka. Tapi sekarang saya berusaha memahami apa yang mereka alami. Ketika mereka nakal tak karuan dan tidak bisa diatur saya coba pahami bahwa diantara mereka ada yang hidup di tengah lingkungan yang keras yang tak mampu membentuk karakter mereka, akhirnya lagi2 berusaha memotivasi diri untuk “merubah” mereka sekemampuan saya. Ketika mereka tak bisa mengerti2 apa yang saya sampaikan saya berusaha memahami bahwa tak bisa kita paksakan semua anak untuk mengerti karena toh mereka punya kelebihan masing2, minimal saya berusaha agar mereka tidak benci dengan “MATEMATIKA”.

Satu hal semoga saya tak membunuh potensi mereka karena saya guru “MATEMATIKA”, dilema selalu saya alami,kurikulum yang menurut saya lebay. Ngimpi “coba aja system pendidikan di Indonesia seperti di Jepang” mungkin SDM yang dihasilkan akan lebih bagus (cerita dari wali murid yang pernah mukim di Jepang 8 tahun). Tapi inilah hidup apapun profesi yang saya pilih pastilah semua mengandung resiko, biarlah ku lakukan apa yang kubisa semaksimal mungkin, berharap minimal salah satu dari mereka menjadi orang yang berhasil, tentunya dunia dan akhirat.